Selasa, Maret 02, 2010

curhatku

Disaat seorang senior berkata bahwa ia malu dengan pengakuanku tentang masalah yang telah aku alami, dan karenanya ia tak lagi mau peduli denganku. Aku terhenyak..!!! sungguh rasanya sedih dikucilkan oleh orang-orang disekitar kita.
Rasa malu…..
Karena rasa itupulalah hingga ku terjebak dalam permainannya. Berkubang dalam dosa. Tidak pernah kusangka jika kebaikan dan uluran persaudaraan yang kutawarkan ia manfaatkan untuk merusak impianku. Dengan bujukan, rayuan dan terkadang ancaman ia hirup segala sari-sari dari kehidupanku. Dan aku tak berdaya karena menjaga malu dan aib, kututupi segala perbuatannya. Aku terlalu malu untuk mengakui, jika orang seusiaku dengan tingkat pendidikan dan pemahaman agama yang kuanut ternyata bisa diperdaya dengan perilakunya. Dan aku…pun harus terjerumus dalam mimpi buruk seorang PK.
Setiap orang pasti bertanya. Mengapa tak berontak, tak berteriak, lari, atau apapun caranya agar terlepas dari cengkeramannya. Dimana daya nalar, logika dan nilai-nilai agama/budaya yang dianut? Mengapa bungkam dan diam saja???. Bahkan pertanyaan yang lain, bahwa apakah kondisi itupun dinikmati-disenangi atau disukai sehingga tak melakukan perlawanan??.
Sungguh, semua pertanyaan itu sangat lumrah ditanyakan. Namun jawabannya bisa berbeda-beda bagi setiap orang yang mengalami peristiwa tersebut. Yang pasti, namanya musibah tak pernah bisa dielakkan. Dan aku-pun tak bisa melakukan perlawanan karena perilaku yang dilakukan diluar kesadaranku. Ribuan waktu kulalui dengan menanggung perilakunya, menutupi kebiadabannya karena malu mengakui jika orang yang pendidikannya cukup memadai, ternyata bisa jatuh pada tipu muslihatnya.
berbulan-bulan aku menahan segala rasa yang berkecamuk, sungguh tak kuasa bertahan pada kubangan dosa. menatap wajah-wajah teman-temanku, orang tua, saudara dan komunitasku membuatku tersadar jika ini harus dihentikan.
biarlah aku menjadi korban yang terakhir, jika karena aku berani membuka aib dan rasa malu ini. maka saudari-saudariku/perempuan dimanapun bisa merasakan keamanan berada dilingkungan yang tak bersahabat. biar aku yang menanggung rasa malu, dicaci dan dihina banyak orang. agar kelak, tak ada lagi perilaku bejad yang menimpa kaumku.
Dan kini, masihkah ada rasa malu melebihi malu padaNya sang Penguasa alam. yang karenaNya-lah aku menitipkan rasa malu ini. agar esok aku bisa menatap dunia ini tanpa ragu dan malu.

0 komentar: