Sebuah keistimewaan bagi para mahasiswa yang telah mengikuti bastra atau biasa disebut LK I hmi. Ada perbedaan mencolok bagi kami saat menjadi mahasiswa baru di kampus.
Kawan-kawan yang telah bergabung dikomunitas hijau hitam, bolehlah berbangga hati telah mendalami 3 kata yang sama sekali asing ditelingaku, bahkan tak kami temukan dalam pelajaran kuliah. “logika, retorika,apologi”..
Dulu sewaktu MaBa, sungguh heran aku melihat kawan-kawanku yang begitu pandai memainkan ungkapan-ungkapan ilmiah yang kurang aku pahami. Berbincang tentang perkembangan politik, sosial, ekonomi Negara ini bak penyiar di televisi. Bahkan diruang-ruang kuliah, dosenpun dibabat dengan diskusi-diskusi tentang mata kuliah yang diajarkan. Tanpa canggung dan rasa grogi kawan-kawanku mengemukakan pendapatnya dihadapan dosen se-killer apapun, dengan logika yang sungguh diluar jangkauan nalarku yang masih baru mengecap dunia perkuliahan.
Bahkan keberanian untuk mengungkapkan pendapat tidak hanya dalam batas-batas ruang kuliah. Terkadang dijalan depan kampus, dengan Toa ditangan, kawan-kawanku ini berani buka suara tentang ketidakadilan oleh pemerintah… dengan lantang dan tegas, bicara atas nama rakyat.
Sikap dan perilaku kami-pun berbeda, aku hanya mengenal kampus, kost dan terkadang bila hari libur pelesir tak tentu arah. Sungguh berbeda dengan kawan-kawanku yang hari-harinya disibukkan dengan demonstrasi, kajian, rapat, diskusi. Jarang pulang kerumah, nginap dimana saja. Bahkan kerap bolos kuliah. Apa yang mereka sibukkan? Dan tanpa pernah mengingat bagaimana jerih payah orang tua membayar uang kuliah mereka agar saat jadi sarjana bisa pulang untuk membangun kampung halamannya.
Hingga terdorong oleh rasa penasaran, akhirnya akupun ikut perkaderan selama seminggu, dan mau tak mau akhirnya juga ikut bolos kuliah karena tak kuasa menahan kantuk habis begadang tiap malam. Namun semua tidak menjadi persoalan sebab yang terpenting ada ilmu yang akhirnya aku dapatkan, yang dulu membuat kami berbeda.
Dan selanjutnya, setiap kuliah tak ada lagi mata kuliah yang tidak kupahami. Logikaku terasah, dan dengan retorika aku bisa berdebat sehebat para komentator sepakbola berbicara. Bahkan sering bolos kuliah, kadang lupa akan pesan orang tua supaya aku cepat jadi sarjana. Semuanya kulakukan untuk bisa eksist didunia aktivis. Demi mengurangi rasa bersalah pada ibu - bapak, maka pontang-pantinglah aku mencari beasiswa untuk menutupi biaya kuliah. Ngamen kiri kanan agar bisa mengongkosi biaya aktivitasku diluar waktu kuliah. Karena toh tidak mungkin aku minta pada ibu, untuk membiayai perjalananku keberbagai tempat dalam kegiatan organisasi.
Dan kawan-kawanku?!?. Tidak hanya berdiskusi atau berorasi dijalan, Retorika ini juga banyak digunakan untuk menaklukkan para perempuan, utamanya mahasiswi baru yang belum tahu kadalnya para kawan-kawanku. Hingga saat itu ada istilah KRS (Korban retorika Senior).
Sebuah anekdot juga lahir dari euforia ini. Bila logikamu tak sampai, maka beretorikalah. Bila tak mampan beretorika maka apologilah. Namun jika apologimu tak manjur maka lakukan loby. Ibarat para negosiatur ulung, kader hijau hitam juga sangat pandai bernegosiasi. Utamanya meloby dosen agar bisa lulus mata kuliah yang jarang diikuti.
Sekarang, bagiku semua itu sudah berlalu. Meski telat selesai, akhirnya gelar sarjana kuraih juga di tahun ke tujuh, nyaris DO. Tapi lagi-lagi ilmu loby kupergunakan juga agar bisa lolos ujian akhir.
Entah bagaimana denganmu kawan…?!
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
.jpg)
0 komentar:
Poskan Komentar