Rabu, Juni 08, 2011

SENTIMEN KEAGAMAAN DALAM KERUSUHAN MASSAL DI AMBON

Akar konflik di Ambon sudah muncul sejak abad ke 15 M, di masa kesultanan Ternate berperang dengan Portugis. Perebutan jalur perdagangan rempah-rempah yang dikuasai oleh pedagang muslim dan misi kristenisasi pada masyarakat di Maluku menimbulkan konflik. Pertikaian ini terus berlanjut hingga masa kolonialisme. Belanda dengan politik penjajahannya membuat suatu segregasi terhadap penduduk Hindia Belanda, dimana penduduk pribumi beragama Kristen mendapat keistimewaan dibandingkan warga muslim. Agama kristen merupakan alat untuk meningkatkan loyalitas masyarakat terhadap pemerintahan kolonial. Kedudukan orang kristen Ambon menjadi kelas baru dalam tatanan kehidupan sesama pribumi dan disebut Black Dutchmen (orang Belanda hitam).

Kedekatan penduduk Kristen di Ambon dan Belanda, membuka akses bagi mereka untuk setara dengan kaum priyayi dan keluarga raja. Kesempatan mendapatkan pendidikan dan kedudukan di pemerintahan, menimbulkan kesenjangan bagi masyarakat muslim. Hal ini telah menyebabkan luka yang sangat mendalam dalam benak orang Islam khususnya di Ambon. Sementara pada masa penjajahan Jepang, kedudukan penganut Kristen di Ambon mulai diusik. Penduduk Kristen yang loyal kepada Belanda, akhirnya disingkirkan dan posisi mereka dipemerintahan diganti oleh warga muslim.

Kebijakan yang dijalankan Soeharto semakin membuka akses pada warga muslim untuk menduduki posisi di pemerintahan maupun dalam bidang ekonomi, dimana dilain pihak warga kristen termarginalkan. Selain itu sistem pendidikan agama yang menekankan perbedaan agama, juga telah menyulut sikap kecurigaan dan kebencian antara kedua belah pihak. Benih permusuhan yang terpendam pada masa orde baru akibat stabilitas model kebhinekaan yang dikonstruksi oleh pihak penguasa, akhirnya terbuka pada masa reformasi.

Persaingan antara warga muslim dan kristen di Ambon timbul karena terbatasnya kesempatan mengelola ekonomi dan akses di bidang politik, pemerintahan dan lapangan kerja. Gelombang pendatang dari Sulawesi berasal dari suku Bugis, Buton dan Makassar dikenal dengan istilah BBM, telah mendominasi perekonomian di Maluku serta menambah populasi penduduk Islam di Ambon. Warga muslim Ambon yang rata-rata berprofesi sebagai pedagang dan banyak berperan dalam pemerintahan, dianggap telah memarginalkan warga kristen Ambon yang sebelumnya menguasai Ambon.

Kerusuhan yang dipicu perkelahian sopir angkot pada tanggal 19 januari 1999, merebak menjadi perkelahian antar kampung yang berbeda agama (Islam dan Kristen). Kerusuhan ini tak berhenti hingga tahun 2005, dimana eskalasinya meningkat hingga menimbulkan korban jiwa dan meteri. Secara kasat mata dapat diketahui bahwa konflik yang terjadi karena sentimen keagamaan antara kedua pihak yang bertikai namun jika melihat sejarah kehidupan masyarakat Maluku, sesungguhnya benih konflik telah tertanam lama. Potret keagamaan yang ada merupakan produk perubahan sosial yang multi-dimensional sejak masa kolonial hingga masa orde baru.

Kondisi kehidupan sosial masyarakat Maluku secara umum tampak damai dan rukun, dengan nilai kearifan lokal seperti pela gandong. Namun perbedaan kehidupan keagamaan hingga persaingan sumber daya telah menjadi sekat dalam interaksi masyarakat. Kemajemukan masyarakat yang dihembuskan dengan semboyan bhineka tunggal ika, hanya menjadi slogan. Pengelompokan-pengelompokan sosial telah menimbulkan masalah dalam interaksi sosial. Hal ini dapat dilihat dari pengelompokan masyarakat dengan membangun kampung sesuai dengan pemahaman keagamaanya (Segregated Pattern of Settlement). Wilayah atau kampung menjadi daerah teritorial bagi agama tertentu (Kristen dan atau Islam), dimana kegiatan ekonominyapun hanya boleh dijalankan oleh pemeluk agama tersebut.

Akibatnya, setiap kampung menjunjung kebersamaan dengan identitas keagamaannya masing-masing dan sulit untuk menerima perbedaan secara terbuka. Kondisi ini tentu saja membawa dampak yang negatif. Ketika terjadi pertikaian antar individu yang berbeda agama, maka dengan rasa solidaritas keagamaan akan menyerang kelompok yang berbeda. Isu kebencian antar agama, dimana kecenderungan pada tradisi dan ikatan agama yang sangat kuat merupakan cerminan disintegrasi di masyarakat di Ambon.

0 komentar: